oleh

Sebelum Jadi Menhan, Prabowo Dicekal Masuk Amerika Serikat Karena Ini

JAKARTA, (Publiknews.com) – Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto tidak lagi dicekal masuk ke Amerika Serikat (AS). Prabowo telah bersilaturahmi dengan perwakilan dari negara Paman Sam itu, bahkan mendapat undangan untuk berkunjung ke sana.

Baca Juga :  Jadi Menteri Kesehatan, Presiden Beri Kenaikan Pangkat Luar Biasa Kepada Dokter Terawan

Wakil Ketua Umum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan hal tersebut. “Sejak jadi menhan, ada beberapa negara yang bersilaturahmi dengan Pak Prabowo, termasuk dari tim AS,” kata Dasco di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (29/10/19).

Prabowo pernah mengungkapkan bahwa ia ditolak masuk ke AS pada 2000. Pada saat itu, ia ingin menghadiri wisuda anaknya, Ragowo Hediprasetyo (Didit Hediprasetyo), yang kuliah di salah satu universitas di Boston, AS.

Tidak jelas alasan Departemen Luar Negeri AS menolak visa Prabowo pada waktu itu. Namun, laporan New York Times pada Maret 2014 menyebut Washington DC sempat menjauhkan diri dari para pendukung mantan Presiden Soeharto pasca-kejatuhan rezim Orde Baru.

Dalam wawancara dengan Reuters , Prabowo mengatakan, ia masih ditolak masuk ke AS pada 2012. Sumber Reuters menyebut penolakan terhadap Prabowo terkait dugaan kerusuhan Mei 1998 dan penculikan aktivis mahasiswa. Namun, Prabowo membantah semua tuduhan itu.

Lima Jenderal TNI Lainnya Juga Pernah Dicekal Masuk AS

Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo, pernah mengungkapkan bahwa Prabowo bukan satu-satunya jenderal TNI yang dilarang masuk AS.

Baca Juga :  Jika Terpilih Prabowo Janjikan Sistem Outsourcing Dihapus

Bahkan ada lima jenderal lainnya yang pernah mendapat pencekalan serupa. Seperti dilansir dari Tribunnews.

Berikut keenam jenderal yang turut dicekal masuk AS:

1. Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Syamsudin

2. Jenderal TNI (Purn) Wiranto

3. Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo

4. Letnan Jenderal TNI (Purn) Zacky Anwar Makarim

5. Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo

Saat Sjafrie menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan pada 2009, ia mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri pertemuan G-20 di Pittsburgh, Pennsylvania. Namun, ia ditolak masuk ke AS dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Timor Timur.

Media AS memberitakan bahwa Sjafrie diduga bertanggung jawab atas peristiwa Santa Cruz yang menewaskan 250 orang pada 12 November 1991. Mereka yang tewas adalah para demonstran pro-kemerdekaan.

Sjafrie mengirimkan bantahannya terhadap tudingan tersebut ke Kedutaan Besar AS. Sjafrie menyatakan ia tidak berada di lokasi ketika peristiwa Santa Cruz terjadi. Ia juga menyebut Komnas HAM telah mengeluarkan pernyataan terkait kasus kekerasan di Dili pada 1999. Namanya tidak disebut dalam laporan Komnas HAM itu.

Baca Juga :  Dari Aceh Presiden Jokowi Langsung Bertolak ke Riau

Wiranto juga ditolak masuk ke AS pada 2004 lantaran alasan pelanggaran HAM. Sejumlah media AS memberitakan, nama Wiranto ada dalam daftar tersangka penjahat perang. Salah satunya mengutip pernyataan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebut Wiranto menyebabkan 1.500 orang Timor Timur tewas ketika Referendum 1999.

Namun, Wiranto membantah kabar tersebut. “Belum, saya belum pernah mengalami (dilarang ke AS),” kata Wiranto seperti dikutip Kumparan.com, Senin (23/10/17).

Sebagaimana Wiranto dan Sjafrie, Zacky dan Pramono Edhie juga dilarang masuk ke AS lantaran dugaan pelanggaran HAM di Timor Timur. Menurut BBC.com, saat itu Zacky memegang jabatan sebagai asisten intelijen Komando Staf Angkatan Darat (KSAD) periode 1996-1997. Ia juga menjabat sebagai kepala Satuan Tugas (Satgas) Penentuan Pendapat Timor Timur. Sementara, Pramono waktu itu menjabat sebagai kepala grup Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang bertugas di Timor Timur.



ucapan selamat idul adha dari publiknews

Redaksi Publik News menerima kiriman berita, rilis pers dan opini. Kirim ke: mediapubliknewscom@gmail.com atau WhatsApp: 0852 7213 4500


LOWONGAN KERJA WARTAWAN PUBLIKNEWS

Komentar