SIAK, PUBLIKNEWS.COM – Semangat swasembada pangan kembali diuji. Di tengah gencarnya program pertanian, ironi justru terjadi di Dusun Endang Dharma, Kampung Bungaraya. Lahan padi sawah milik petani binaan BAZNAS Siak kini kekeringan di umur semai 12 hari karena air Pompanisasi tak kunjung mengalir.
Kondisi memprihatinkan itu diungkapkan Jumadi Akhir, atau yang akrab disapa Jon, salah satu petani peserta program BAZNAS Siak, Jumat (28/08/2026) sore.
Menurut Jon, saat ini tanaman sudah masuk umur 12 hari setelah semai. Masa kritis yang seharusnya saluran sekunder 2 sudah diisi air dari Pompanisasi agar bisa dialirkan ke saluran tersier, lalu sampai ke sawah petani.
Faktanya di lapangan, air nihil. Saluran kering. Pompa yang menjadi harapan petani seolah hanya jadi pajangan.
“Seharusnya skunder 2 sudah bisa diisi air dari Pompanisasi. Kalau airnya ada, kami petani bisa alirkan ke tersier, baru bisa masuk ke sawah kami. Ini sudah 12 hari, tanaman butuh air. Kalau dibiarkan kering begini, mau jadi apa?” tegas Jon dengan nada kecewa.
Program BAZNAS Siak di Dusun Endang Dharma digadang-gadang sebagai solusi mengangkat ekonomi petani. Bibit, pupuk, dan pendampingan sudah diberikan. Namun tanpa air, semua itu sia-sia.
Petani kini hanya bisa pasrah menatap lahan yang mulai retak. Jika dalam beberapa hari ke depan air tidak segera dialirkan, ancaman gagal tanam dan gagal panen sudah di depan mata.
Jon meminta kepada Dinas terkait, Pengelola Pompanisasi, dan pihak BAZNAS Siak agar segera turun tangan. Jangan sampai program bagus hanya berhenti di atas kertas.
“Kami sudah kerja, sudah tanam. Masa karena air tidak ada kami yang rugi. Tolong segera hidupkan Pompanisasi ini. Ini menyangkut perut kami dan keluarga,” desaknya.
Ketahanan pangan bukan sekadar slogan. Jika infrastruktur dasar seperti air tidak dipenuhi, maka target produksi hanya akan menjadi wacana.
Petani Dusun Endang Dharma menuntut kepastian. Hidupkan Pompanisasi sekarang, sebelum tanaman 12 HST ini mati kekeringan.
Senada juga disampaikan Geol, salah satu operator alsintan yang sedang melakukan aktivitas jelang masa tanam. Menurutnya, jika kondisi kekeringan seperti ini, maka pengeluaran BBM semakin meningkat tajam sehingga berpengaruh dengan upah yang ia dapatkan.
“Kalau ada air pengeluaran tidak begitu besar, tapi kalau kering seperti ini satu hektare bisa menghabiskan Rp1.200, di mana lagi untung saya,” kata Geol.
Pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas nasib ratusan petani di Bungaraya ini. Jangan hanya seremonial saja Pemerintah hadir, sementara jika kendala yang dihadapi petani tak satupun yang tampak di tengah mereka.
Laporan: Koko
Lihat Berita dan Artikel Terbaru Publik News Lainnya di Google News
Redaksi Publik News menerima kiriman berita, rilis pers dan opini. Kirim ke: mediapubliknewscom@gmail.com atau WhatsApp: 0852 7213 4500






