Pendidikan di Era Digital dan Kecerdasan Buatan: Antara Peluang dan Tantangan di Sekolah Indonesia

Hype, Opini44 views

PUBLIKNEWS.COM – Mahasiswa Magister (S2) Pedagogi, Universitas Lancang Kuning Digitalisasi pendidikan di Indonesia berkembang pesat, terutama sejak pandemi COVID-19 mempercepat penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Platform pembelajaran daring, aplikasi evaluasi digital, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini mulai masuk ke ruang-ruang kelas. Namun, realitas di sekolah Indonesia menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan pedagogis dan keadilan akses pendidikan.

Di satu sisi, teknologi menawarkan peluang besar untuk memperluas sumber belajar dan meningkatkan efisiensi. Di sisi lain, ia memunculkan problem baru yang nyata dirasakan guru dan siswa: kesenjangan digital antarwilayah, beban administratif berbasis aplikasi, serta kecenderungan pembelajaran instan yang miskin refleksi.

Digitalisasi Sekolah: Antara Kebijakan dan Realitas Lapangan

Kebijakan digitalisasi sekolah, termasuk melalui platform nasional dan implementasi Kurikulum Merdeka, pada dasarnya membawa semangat pembelajaran yang lebih fleksibel dan berpusat pada peserta didik. Namun, di banyak sekolah-terutama di daerah pinggiran dan pedesaan-ketersediaan perangkat, jaringan internet, dan literasi digital masih menjadi persoalan mendasar.

Tidak sedikit guru yang harus mengajar dengan keterbatasan fasilitas, bahkan menggunakan perangkat pribadi untuk memenuhi tuntutan administrasi digital. Alih-alih meringankan tugas guru, teknologi justru kerap menambah beban kerja administratif, sehingga waktu untuk refleksi pedagogis dan pendampingan siswa menjadi berkurang. Fenomena ini menunjukkan bahwa digitalisasi belum sepenuhnya berpihak pada praktik pendidikan yang bermakna.

Guru Indonesia di Tengah Tekanan Teknologi

Masuknya AI dalam dunia pendidikan memunculkan kecemasan baru di kalangan guru. Sebagian guru khawatir perannya tergantikan oleh teknologi, sementara sebagian lainnya merasa tertinggal karena kurangnya pelatihan yang berkelanjutan. Padahal, dalam perspektif teori konstruktivisme, guru justru memegang peran sentral sebagai fasilitator yang membimbing proses berpikir siswa.

Di banyak sekolah Indonesia, tantangan guru bukan hanya menguasai teknologi, tetapi juga menjaga relasi pedagogis di tengah tuntutan digital. Guru dituntut adaptif, kreatif, dan reflektif, namun sering kali tidak diimbangi dengan dukungan sistemik yang memadai. Tanpa penguatan kapasitas pedagogis, teknologi berisiko menjadikan guru sekadar operator aplikasi, bukan pendidik yang memerdekakan.

Siswa Indonesia dan Budaya Belajar Instan

Bagi siswa, kehadiran teknologi dan AI sering dimaknai sebagai jalan pintas menyelesaikan tugas. Di sejumlah sekolah, guru mulai menemukan tugas-tugas siswa yang seragam, minim argumen personal, dan cenderung hasil salin-tempel dari internet atau AI. Ini menandakan persoalan serius dalam budaya belajar.

Paulo Freire mengkritik pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai objek pasif. Dalam konteks sekolah Indonesia saat ini, pendidikan digital berisiko melanggengkan pola tersebut dalam bentuk baru: siswa menerima jawaban instan tanpa proses dialog dan refleksi. Jika dibiarkan, pendidikan akan kehilangan fungsi pembentukan nalar kritis dan karakter.

Oleh karena itu, pembelajaran berbasis teknologi perlu diarahkan pada penguatan literasi kritis dan etika digital. Siswa harus dibimbing untuk memahami batas penggunaan AI, sekaligus dilatih mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar mengejar hasil akhir.

Kesenjangan Digital dan Keadilan Pendidikan

Isu kesenjangan digital masih menjadi tantangan besar pendidikan Indonesia. Perbedaan akses antara sekolah di perkotaan dan pedesaan, antara sekolah favorit dan sekolah dengan sumber daya terbatas, menunjukkan bahwa digitalisasi belum sepenuhnya inklusif. Dalam perspektif pendidikan sebagai alat emansipasi sosial, kondisi ini patut menjadi perhatian serius.

John Dewey menegaskan bahwa pendidikan harus memberikan kesempatan belajar yang setara bagi semua. Jika teknologi justru memperlebar ketimpangan, maka arah kebijakan pendidikan digital perlu dikaji ulang. Pemerataan akses harus diiringi dengan pendampingan pedagogis, bukan sekadar distribusi perangkat dan aplikasi.

Menjaga Humanisasi Pendidikan di Tengah AI

Pendidikan Indonesia memiliki mandat yang lebih luas dari sekadar transfer pengetahuan, yakni pembentukan karakter dan nilai kebangsaan. Dalam relasi pedagogis, sentuhan manusiawi guru tidak dapat digantikan oleh algoritma. AI tidak memiliki empati, kearifan lokal, dan sensitivitas budaya yang menjadi ruh pendidikan Indonesia.

Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan humanisasi pendidikan. Guru perlu diberdayakan sebagai pendidik reflektif yang mampu memaknai teknologi secara kritis, bukan sekadar pengguna pasif.

Penutup: Teknologi untuk Pendidikan Indonesia yang Berkeadilan dan Bermakna

Pendidikan di era digital dan kecerdasan buatan adalah keniscayaan bagi Indonesia. Namun, keberhasilannya tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh paradigma pendidikan yang melandasinya. Teknologi harus menjadi sarana untuk memperkuat pembelajaran yang kritis, adil, dan manusiawi.

Refleksi ini penting agar sekolah Indonesia tidak terjebak pada euforia digital semata. Pendidikan harus tetap berpihak pada manusia-guru dan siswa-serta berakar pada nilai, konteks lokal dan tujuan memanusiakan manusia. Tanpa itu, kecerdasan buatan justru berpotensi menjauhkan pendidikan dari hakikatnya.

 

 

Penulis: Dewi Sundari, S.IP., S.Pd

Editor: Koko Haryadi



Lihat Berita dan Artikel Terbaru Publik News Lainnya di Google News


Redaksi Publik News menerima kiriman berita, rilis pers dan opini. Kirim ke: mediapubliknewscom@gmail.com atau WhatsApp: 0852 7213 4500