Diskusi Perdana di Skywalk Tengku Buwang Asmara, Tokoh dan Anak Muda Bicara Masa Depan Siak

Hype, Siak15 views

SIAK, PUBLIKNEWS.COM – Suasana rooftop Anjungan Datuk Limapuluh di Skywalk Tengku Buwang Asmara, Mempura, Senin (11/5/2026) malam tampak hidup. Sejumlah tokoh masyarakat, anak muda, seniman, jurnalis, aktivis sosial hingga pegiat media sosial berkumpul dalam diskusi bertajuk Siak di Tengah Perubahan Zaman: Menjaga Warisan dan Menata Masa Depan.

Diskusi yang digelar secara swadaya itu menjadi forum perdana yang mempertemukan berbagai kalangan untuk membicarakan arah masa depan Kabupaten Siak. Mulai dari pembangunan, sejarah, sosial masyarakat hingga konsep heritage city.

Lampu-lampu tepian Mempura yang terlihat dari ketinggian rooftop menambah hangat suasana diskusi. Alunan musik yang dimainkan Fallenistic Band membuat suasana santai namun penuh gagasan kritis. Peserta terlihat bertahan hingga larut malam untuk menyimak dan aktif berdialog dengan para narasumber.

Mantan Kepala Dinas PU Tarukim Siak, Irving Kahar Arifin, menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tersebut. Ia memaparkan pentingnya perencanaan dalam pembangunan daerah.

Irving mengurai bagaimana konsep pembangunan Siak dirancang sejak awal pemekaran kabupaten, termasuk gagasan strategis kota kembar Siak–Mempura yang terus didorong hingga masa pensiunnya.

“Infrastruktur tidak boleh dipandang sekadar proyek jangka pendek, melainkan investasi masa depan bagi generasi berikutnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Siak saat ini telah tumbuh menjadi daerah yang sangat baik dan layak dikunjungi. Alasannya karena dibangun melalui perencanaan yang terarah dari masa ke masa.

Dalam paparannya, Irving juga membagikan pengalamannya mengunjungi berbagai kota di dunia, mulai dari Filipina, India, Jepang hingga sejumlah negara di Eropa. Dari pengalamannya itu, ia melihat hampir tidak ada kota besar yang meninggalkan konsep heritage city sebagai kekuatan utama pembangunan pariwisata.

“Rata-rata kota di dunia justru menjadikan heritage city sebagai kekuatan ekonomi dari sektor wisata,” ujarnya.

Ia menilai Siak memiliki keunggulan besar karena memiliki dua kekuatan sekaligus, yakni warisan sejarah Kesultanan Siak dan karakter kota berbasis sungai.

Karena itu, Irving mendorong agar konsep kota kembar Siak–Mempura dan pembangunan heritage city terus dilanjutkan secara konsisten.

“Istana Siak dapat menjadi pusat pengembangan heritage city yang terintegrasi dengan kawasan Pecinan, Masjid Sultan, Balai Kerapatan hingga kawasan Tangsi Belanda di Mempura,” ujarnya.

Sementara itu, Iskandar, Founder Siak Heritage, yang juga sebagai narasumber mengulas bagaimana Kesultanan Siak pada masanya. Sultan Siak telah membangun peradaban yang maju dan menjadi bagian dari peradaban dunia.

Ia mengatakan, masyarakat Siak sejatinya memiliki DNA sebagai masyarakat yang berpikir maju dan berwawasan global.

“Sejak zaman kesultanan, Siak sudah membangun peradabannya sendiri. Karena itu sejarah Siak wajib diketahui generasi muda dan terus dikaji kalangan terdidik agar identitas peradaban itu tidak hilang,” ujarnya.

Menurut Iskandar, menjaga sejarah bukan hanya soal merawat bangunan lama. Tetapi menjaga cara berpikir dan nilai kemajuan yang diwariskan para pendahulu.

Narasumber lainnya, Wan Hamzah, seorang aktivis, menghadirkan sudut pandang yang lebih kritis terkait kondisi sosial masyarakat di tengah perubahan zaman.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebijakan publik dan tidak takut menyampaikan kritik terhadap pengambil keputusan. Partisipasi masyarakat sangat penting untuk menjaga marwah daerah sekaligus memastikan kebijakan pemerintah berpihak pada masa depan generasi mendatang.

“Buah dari kebijakan hari ini akan dirasakan anak cucu kita nanti. Karena itu masyarakat harus ikut mengawal kebijakan agar Siak terus meninggalkan legacy yang baik,” katanya.

Wan Hamzah juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pola hidup pragmatis yang melemahkan daya kritis publik.

Ia menilai Siak memiliki potensi besar, baik dari sektor industri Migas maupun sumber daya yang tumbuh di atas bumi. “Karena itu kita selalu membutuhkan tradisi demokrasi yang sehat serta kontrol sosial yang kuat,” katanya.

Diskusi ini awalnya dipantik Alfat Handri, tokoh muda Siak. Ia menyebut, arah kebijakan Siak akhir-akhir ini dianggap mengabur. Estafet pembangunan yang diharapkan sulit terwujud.

“Jika kita urai kepemimpinan Siak dari masa ke masa itu berkelanjutan sehingga Siak tumbuh sebagai daerah yang maju. Setahun belakangan, arah itu tampak kabur, Siak hari ini mau apa dan mau melakukan apa, justru kita tidak mengerti,” ujarnya.

Diskusi tersebut juga membahas berbagai tantangan yang kini dihadapi Siak, mulai dari tekanan fiskal daerah, persoalan sosial, melemahnya solidaritas masyarakat, meningkatnya polarisasi di ruang publik, hingga kegelisahan terhadap masa depan ekonomi dan lapangan kerja.

Meski berlangsung sederhana, forum itu menjadi refleksi bersama tentang bagaimana Siak harus menjaga warisan sejarahnya di tengah derasnya perubahan zaman.

Para peserta berharap diskusi serupa dapat terus digelar. Setidaknya untuk menghidupkan nalar publik, menjadi ruang bertukar gagasan demi menjaga arah pembangunan Siak.

 

Laporan: Koko



Lihat Berita dan Artikel Terbaru Publik News Lainnya di Google News


Redaksi Publik News menerima kiriman berita, rilis pers dan opini. Kirim ke: mediapubliknewscom@gmail.com atau WhatsApp: 0852 7213 4500