oleh

Tanjung Kuras Sungai Apit Siak, Kampung Kaligrafi dalam Hamparan Kebun Nanas

SIAK, PUBLIKNEWS.COM – Dulu, semasa masih berada dalam wilayah Kabupaten Bengkalis, Desa Tanjung Kuras, Kecamatan Sungai Apit, Riau masuk dalam kategori desa tertinggal. Apalagi Tanjung Layang, yang merupakan dusun paling ujung dari desa ini, hanya memiliki akses jalan setapak yang kala musim hujan, dalam paya gambutnya bisa sepinggang orang dewasa. Namun, Pasca pemekaran dari Kabupaten Bengkalis pada 1999, terbentuklah daerah otonomi Kahupaten Siak, dan Sungai Apit salah satu yang menjadi Kecamatannya.

Tanjung kuras secara perlahan ikut terimbas. Bila dulu bersepeda saja susah, sekarang mobil sudah bisa sampai ke Tanjung Layang, dusun paling ujung.

Kampung Tanjung Kuras dikenal sebagai Kampung Kaligrafi, karena hampir tiap pelaksanaan MTQ, juaranya berasal dari kampung ini. Selain itu, kampung ini juga identik dengan nanas, karena beratus hektare kebun nanas terhampar di kampung ini. Bahkan, nanas Tanjung Kuras pemasarannya sudah menembus Pulau Jawa.

Baca Juga :  Operasi Yustisi, Tim Gabungan Masih Temukan Warga Pelanggar Prokes

“Sebagai putra kelahiran Sungai Apit, saya patut bersyukur, setelah 10 tahun Kabupaten Siak berdiri atau tepatnya pada 2009, saya mendapat kepercayaan dan amanah dari masyarakat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Siak. Setelah masuk tiga priode saya di legislatif, Tanjung Kuras salah satu desa yang selalu menjadi perhatian saya, walau suara saya tak banyak di sana,” kata Syamsurizal Budi kepada Publiknews.com, Sabtu (04/7/2020).

Ketua Fraksi Demokrat Siak itu juga menceritakan, awal menjadi dewan, pembangunan jalan ke kampung Tanjung Kuras betul-betul ia kawal hingga masuk di APBD Siak 2009.

“Dulu awal saya jadi dewan, untuk jalan desa Tanjung Kuras sepanjang 1 km saya kawal hingga masuk di APBD 2009, dan Alhamdulillah, pada APBD 2010 tersambung lagi sepanjang 2 km,” jelasnya.

Budi juga menceritakan perjalanan perkembangan kampung Tanjung kuras itu. Menurutnya, semasa Syamsuar masih menjadi Bupati Siak, terjadi musibah angin puting beliung. Hikmah di balik musibah itu, Syamsuar turun ke Tanjung Layang, dan melihat serta merasakan sendiri kondisi jalan ke dusun paling ujung tersebut. Kemudian, secara bertahap jalan ke Tanjung Layang sudah bisa ditempuh menggunakan mobil.

Baca Juga :  Selisih Data Terkonfirmasi Positif Covid-19 Provinsi dengan Pemkab Siak 38 Kasus, Berikut Rinciannya

“Semasa pak Syamsuar masih jadi Bupati Siak, dulu kampung Tanjung Layang pernah dilanda bencana angin puting beliung. Hikmah dari bencana itu, pak Syamsuar turun langsung dan merasakan begitu susahnya akses jalan di sini. Selain kampung paling ujung, saat ini jalan di sini sudah bisa dilalui kendaraan roda empat,” paparnya.

Setelah masalah infrastruktur jalan relatif memadai lanjut Budi, warga Tanjung Layang cukup lama menantikan kehadiran listrik PLN di kampung mereka. Teknologi solarcel dirasa kurang memadai dalam penyediaan arus listrik. Ia bersama Penghulu mencari cara agar jaringan PLN masuk ke kampung itu.

Baca Juga :  Mantan Penghulu Kerinci Kanan Siak Berinisial I, Ditahan Terkait Korupsi Dana Kampung

“Alhamdulillah, pada tahun 2019 saya bersama bapak Aris Penghulu Tanjung Kuras, sama-sama mendobrak PLN Riau – Kepri, hingga jaringan PLN sampai ke Tanjung Layang. Ikhtiar ini juga tidak lepas dari sokongan dan tekanan dari Anggota Komisi VII DPRI (yang membawahi BUMN) dari Partai Demokrat Bapak Sayed Abubakar Assegaf,” sambungnya.

Kampung Tanjung Kuras kini kian dilirik. Selaku anggota DPRD Kabuaten Siak dan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Siak, Syamsurizal Budi berupaya membangun komitmen atas Dapil yang ia wakili. Untuk Kampung Tanjung Kuras, menurutnya masih ada beberapa hal yang menjadi prioritas di sana.



Redaksi Publik News menerima kiriman berita, rilis pers dan opini. Kirim ke: mediapubliknewscom@gmail.com atau WhatsApp: 0852 7213 4500

Komentar